Kepribadian vs Kompetensi

Kepribadian vs Kompetensi

Seorang teman kerja yang cukup sering bekerja bersama, seminggu lalu menanyakan, “Ada saran gak bagaimana membantu orang lain menumbuhkan kepribadian dan perilaku kerja yang bisa ‘going to extra miles’?”

Dalam menangani sebuah project maupun dalam usaha rintisan (startup), pembentukan tim penting sebagai salah satu kunci keberhasilan project atau perkembangan bisnis usaha rintisan. Ketika diterjemahkan ke hal teknis, ini menjadi pertimbangan ketika kita mengajak orang bergabung/merekrut ke dalam organisasi/perusahaan.

Skill vs Will

Ada formula relatif sederhana yang bisa membantu memetakan pertimbangan merekrut orang berdasarkan Skill vs Will-nya. Singkatnya, Skill bicara masalah kompetensi atau kemampuan seseorang mengerjakan pekerjaannya, sedangkan Will berbicara faktor motivasional atau keinginan kuat seseorang dalam mengerjakan/menyelesaikan pekerjaannya.

Penjelasan kombinasinya adalah seperti ini:

Jika Skill dan Will-nya bagus –> pekerja ideal, kasih tugas yang menantang lalu biarkan dia berlari.

Jika Skill ok tapi Will-rendah –> kompeten tapi males, harus dimotivasi dan diberikan inspirasi hingga Will-nya naik.

Jika Skill rendah tapi Will tinggi –> orang ini semangat tapi belum bisa kerja, beri dia pelatihan.

Yang paling berat adalah kombinasi dari Skill rendah dan Will rendah —> sudah tidak kompeten, tidak memiliki motivasi juga. Kalau organisasi/perusahaan Anda butuh berlari cepat dan tidak ada sumber daya maupun waktu untuk yang kombinasi ini, mungkin sebaiknya berpisah segera.

Di dunia Psikologi, masalah Will ini seringkali dikategorikan sebagai komponen kepribadian yang ternyata juga bisa ‘diukur’. Bahasa psikologisnya, Will ini adalah motivasi. Ada beberapa alat tes kepribadian yang bisa digunakan untuk mengukur motivasi kerja seseorang atau jenis motivasinya cenderung ke arah apa.

Pengukuran Profil Kepribadian

Tes kepribadian bukan hanya digunakan untuk mengukur motivasi, ada alat-alat tes yang didesain untuk mengukur profil/pola kepribadian seseorang. Salah satu alat ukur yang dikembangkan oleh Cambridge Psychometric Center (UK) adalah misalnya, dinamakan Orpheus Business Personality Inventory (OBPI).

OBPI adalah sebuah alat asesmen kepribadian dan integritas yang didesain untuk perilaku di tempat kerja. Pengukuran kepribadian pada OBPI ini berdasarkan teori Big Five Personality Model, mencakup 5 dimensi kepribadian (OCEAN) dan 7 skala integritas yang mengukur Kecakapan Kerja (Proficiency), Orientasi Kerja, Kesabaran, Keterbukaan Pikiran, Kesetiaan Kerja dan Inisiatif.

OBPI dikembangkan oleh Cambridge Psychometric Center, sebuah lembaga riset dan pengembangan bagian dari Universitas Cambridge, UK, yang sudah terkenal akan kajian Psikologi dan Psikometrinya. Professor Rust dan timnya, bahkan sudah mengembangkan OBPI ini sebagai sebuah tes online. Artinya, tes ini bisa dikerjakan hanya dengan modal komputer atau gawai yang terhubung ke internet. Tentunya ini merupakan suatu kemudahan yang membuat proses asesmen kepribadian menjadi lebih cepat dan praktis. Laporan hasil asesmennya juga bisa diperoleh dalam waktu kurang lebih 48 jam setelah asesmen dilaksanakan.

Luar biasanya lagi, tes ini sekarang sudah diadaptasi ke versi Indonesia dan bisa digunakan secara komersil melalui mitra resmi Cambridge Psychometric Center untuk penggunaan OBPI di Indonesia, yaitu PT. Strategi Optima (Stratego).

Anda bisa berdiskusi lebih lanjut dengan kami terkait OBPI ini dengan menghubungi kami di halaman ini. Kami bisa menjelaskan lebih detil mengenai proses teknis dan contoh hasil pengukuran profil/pola kepribadian yang akan diterima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *